Oleh : Ahmad Yani 14 Mei 2011 pukul 9:07
Bila anda berfikir kalau kehidupan santri hanya berkutat dengan kitab-kitab salaf, rutinitas ibadah, dan tak ada warna sama sekali, saatnya kini pandangan itu untuk dirubah. Ya, Novel karya Ruslan Ghofur terbitan Matapena ini telah mampu menungkap sisi lain dari kehidupan santri, yang selama ini dianggap hanya sibuk dengan urusan ilmu agama saja. Latar belakang Ruslan yang pernah mendalami ilmu agama di banyak pesantren seperti PP Attarbiyatul Wathoniyah, PP Miftahul Muta’allimin, dan banyak lagi pesantren lain yang ia singgahi, semakin menguatkan citra pesantren dalam novel bersampul hitam setebal 211 halaman ini. Ruslan dapat menggambarkan kehidupan tiga tokoh utama, Doni, Encep dan Dul dalam novel ini dengan sangat gamblang. Mulai dari karakter masing-masing yang berasal dari daerah berbeda, hingga kebiasaan ngopi mereka yang sangat mencuat dalam karya sastra terbitan tahun 2006 dan 2008 ini.
Bila anda berfikir kalau kehidupan santri hanya berkutat dengan kitab-kitab salaf, rutinitas ibadah, dan tak ada warna sama sekali, saatnya kini pandangan itu untuk dirubah. Ya, Novel karya Ruslan Ghofur terbitan Matapena ini telah mampu menungkap sisi lain dari kehidupan santri, yang selama ini dianggap hanya sibuk dengan urusan ilmu agama saja. Latar belakang Ruslan yang pernah mendalami ilmu agama di banyak pesantren seperti PP Attarbiyatul Wathoniyah, PP Miftahul Muta’allimin, dan banyak lagi pesantren lain yang ia singgahi, semakin menguatkan citra pesantren dalam novel bersampul hitam setebal 211 halaman ini. Ruslan dapat menggambarkan kehidupan tiga tokoh utama, Doni, Encep dan Dul dalam novel ini dengan sangat gamblang. Mulai dari karakter masing-masing yang berasal dari daerah berbeda, hingga kebiasaan ngopi mereka yang sangat mencuat dalam karya sastra terbitan tahun 2006 dan 2008 ini.
Pembentukan karakter dari tiap-tiap tokoh
telah memberikan warna yang dapat memuaskan pembaca. Doni yang memiliki
nama asli Malih Romdhoni berkarakter gigih dalam memegang pendirian,
terbukti di awal cerita Ruslan menunjukannya lewat kutipan perkataan
Doni berikut ini: “Lebih Keren dan Jakarta abis, man. Lagian
mana mau gue disamaain kayak Malih Tongtong. Nggak ada nyambungnya sama
wajah gue yang ganteng” begitulah alasan yang dilontarkabn oleh tokoh Doni itu.
Ngabdulkarim
alias Dul punya karakter lain lagi, santri asli Tegal ini punya
kreatifitas yang cemerlang dan didukung kecerdasan yang membuatnya
dikenal sebagai santri yang pintar di dalam maupun di luar kelas. Hal
itu terbukti dengan kekreatifannya menyingkat nama Bait Al-Muslim
menjadi ‘Ba-Moes’ yang menjadikan nama itu lebih terkenal daripada nama
aslinya. Namun sayang kelebihhan itu tidak terdukung oleh karakternya
yang sangat lugu dan agak ndeso, sehingga kekreatifannya dimanfaatkan untuk berbuat iseng.
LainDoni dan Dul, lain lagi Encep alias Encep Rahmat Sumantri, diantara
kedua tokoh lain hanya dia yang punya sifat yang lebih pasrah lantaran
tak dapat berbuat apa-apa saat namanya dipanggil Encep meskipun anak
asli Cirebon ini lebih senang dipanggil Rahmat.
Latar belakang dan
karakter yang bermacam-macam dari tiga santri ini tak menjadikan
hubungan mereka renggang namun justru makin akrab dan memberikan warna
baru dalam kehidupan mereka di pondok. Keakraban mereka itu dituangkan
dalam secangkir kopi tubruk dan kepulan asap rokok yang menemani
hari-hari mereka.
Kita tahu kopi bukanlah hal yang asing dan tak dapat
dipisahkan dalam kehidupan di banyak pesantren. Dengan ngopi mereka
mencoba untuk menyatukan pikiran, pandangan dan tekad mereka hingga
persahabatan ketiga santri ini makin lekat, salah satunya tetuang dalam
novel ini di bagian “Dul Kebal Hukum” di awal bagian ini tertulius: “Mendapat
hukuman atas berbagai pelanggaran sebenarnya sudah biasa buat Doni,
Encep, dan Dul, Tapi, kalau hukuman itu langsung diberikan oleh Kiai
Ridhwan, bisa jadi baru pertama kali dialami oleh ketiga santri badung
ini” begitulah siratan yang terdapat dalam cuplikan novel ini.
Alur dalam novel ini pun cukup menarik, disajikan secara sistematis dan
runtut semakin menunjukan suasana kehidupan mereka yang sebenarnya.
Hanya saja ada beberapa yang disayangkan dari novel ini yakni banyakanya
konflik yang cukup mencuat dan sering muncul dalam tiap bagian novel.
Sehingga menjadikan konflik utama mereka yang bersaing mencuri hati
Adinda Santri putri yang cantik dan menjadi rebutan trio santri Geng
Kopi Tubruk ini menjadi agak kabur.
Pembaca dibuat bingung dengan
banyaknya konflik dan problem mereka yang berseliweran dalam cerita,
namun sedikit terselamatkan oleh pembangunan citra persaingan mereka
dalam kisah cinta pesantren ini. Deskripsi permasalahan dalam merebutkan
Adinda dibuat sedalam mungkin dan sehebat mungkin, yang pada akhirnya
konflik utama ini tetap tampak lebih jelas di antara beberapa konflik
pendukung lainnya. Penulis memprediksi mungkin inilah cara unik dari
Ruslan untuk menjadikan novelnya punya nilai tersendiri di hati pembaca,
dan menjadi ciri khas dari novel Geng Kopi Tubruk ini.
Satu kekurangan yang penulis sayangkan sekali, yakni pada ending cerita
yang seakan membuat pembaca tertipu. Terang saja sejak awal dan
seterusnya Ruslan mampu membuat pembaca terbawa oleh alur cerita yang
sangat menarik, menggelikan, bahkan miris. Namun ternyata ia tak bisa
membuat ending yang semenarik alurnya, klimaks dari konflik itu sendiri
juga tak begitu tampak. Sehingga ending dari novel ini terasa datar dan
hambar, penulis sempat merasa kecewa dengan model ending seperti ini.
Memang ending yang tak menyelesaikan semua masalah untuk mengajak
pembaca berimajinasi tentang kelanjutan suatu cerita adalah bagus bagi
penulis. Tapi bukan seperti ending novel ini, seakan-akan ada yang
hilang dari cerita ini, warna khas yang dipersembahkan oleh penulis
novel menjadi pudar di akhir cerita.
Penulis
menyarankan, meskipun ingin membuat akhir cerita tak menyelesaikan semua
permasalahan tapi tak seharusnya ada yang lumpuh dari badan cerita.
Semestinya penulis cukup membuat akhir dari konflik utama, sedangkan
percikan dari konflik tadi biarlah menjadi cerita baru dalam pikiran
pembaca. Itulah sekiranya yang perlu diperbaiki dan diperhatikan oleh
Ruslan dalam menulis fiksi apapun. Memang sekilas kekuranagn dari novel
ini tak begitu banyak, namun meski sedikit dengan kesumbangan yang
sangat tampak bak luka menganga itu, akan menjadi sebuah hantaman keras
bagi Ruslan dan novelnya.
Penulis dapat memaklumi akan
hal ini terutama dalam pembentukan ending, karena penulis sendiri juga
merasakan hal yang cukup sulit untuk membuat ending yang indah dalam
sebuah tulisan fiksi. Namun secara keseluruhan novel ini cukup bagus dan
layak di baca oleh siapapun lebih-lebih santri, karena novel ini secara
jujur memaparkan sisi lain kehdupan di pesantren. Diksi, penokohan,
alur, konflik, setting, deskripsi, dan yang lain telah dituangkan oleh
Ruslan secara bagus dan menarik. Penulis menyimpulkan bahwa novel Geng Kopi Tubruk ini adalah novel pesantren yang sangat bagus untuk dinikmati semua kalangan.
Judul Novel : Geng Kopi Tubruk
Pengarang : Ruslan Ghofur
Penerbit : Matapena, Yogyakarta
Tahun terbit :September 2006
November 2008
Tebal : ix+211 halaman
Resensator : Ahmad Yani
No comments:
Post a Comment