Monday, 30 January 2017

“GENG KOPI TUBRUK” SIRATAN SISI LAIN KEHIDUPAN KAUM BERSARUNG DI BILIK PESANTREN

Oleh : Ahmad Yani 14 Mei 2011 pukul 9:07


Bila anda berfikir kalau kehidupan santri hanya berkutat dengan kitab-kitab salaf, rutinitas ibadah, dan tak ada warna sama sekali, saatnya kini pandangan itu untuk dirubah. Ya, Novel karya Ruslan Ghofur terbitan Matapena ini telah mampu menungkap sisi lain dari kehidupan santri, yang selama ini dianggap hanya sibuk dengan urusan ilmu agama saja. Latar belakang Ruslan yang pernah mendalami ilmu agama di banyak pesantren seperti PP Attarbiyatul Wathoniyah, PP Miftahul Muta’allimin, dan banyak lagi pesantren lain yang ia singgahi, semakin menguatkan citra pesantren dalam novel bersampul hitam setebal 211 halaman ini. Ruslan dapat menggambarkan kehidupan tiga tokoh utama, Doni, Encep dan Dul dalam novel ini dengan sangat gamblang. Mulai dari karakter masing-masing yang berasal dari daerah berbeda, hingga kebiasaan ngopi mereka yang sangat mencuat dalam karya sastra terbitan tahun 2006 dan 2008 ini.

            Pembentukan karakter dari tiap-tiap tokoh telah memberikan warna yang dapat memuaskan pembaca. Doni yang memiliki nama asli Malih Romdhoni berkarakter gigih dalam memegang pendirian, terbukti di awal cerita Ruslan menunjukannya lewat kutipan perkataan Doni berikut ini: “Lebih Keren dan Jakarta abis, man. Lagian mana mau gue disamaain kayak Malih Tongtong. Nggak ada nyambungnya sama wajah gue yang ganteng” begitulah alasan yang dilontarkabn oleh tokoh Doni itu.

Ngabdulkarim alias Dul punya karakter lain lagi, santri asli Tegal ini punya kreatifitas yang cemerlang dan didukung kecerdasan yang membuatnya dikenal sebagai santri yang pintar di dalam maupun di luar kelas. Hal itu terbukti dengan kekreatifannya menyingkat nama Bait Al-Muslim menjadi ‘Ba-Moes’ yang menjadikan nama itu lebih terkenal daripada nama aslinya. Namun sayang kelebihhan itu tidak terdukung oleh karakternya yang sangat lugu dan agak ndeso, sehingga kekreatifannya dimanfaatkan untuk berbuat iseng.

            LainDoni dan Dul, lain lagi Encep alias Encep Rahmat Sumantri, diantara kedua tokoh lain hanya dia yang punya sifat yang lebih pasrah lantaran tak dapat berbuat apa-apa saat namanya dipanggil Encep meskipun anak asli Cirebon ini lebih senang dipanggil Rahmat.

Latar belakang dan karakter yang bermacam-macam dari tiga santri ini tak menjadikan hubungan mereka renggang namun justru makin akrab dan memberikan warna baru dalam kehidupan mereka di pondok. Keakraban mereka itu dituangkan dalam secangkir kopi tubruk dan kepulan asap rokok yang menemani hari-hari mereka.

Kita tahu kopi bukanlah hal yang asing dan tak dapat dipisahkan dalam kehidupan di banyak pesantren. Dengan ngopi mereka mencoba untuk menyatukan pikiran, pandangan dan tekad mereka hingga persahabatan ketiga santri ini makin lekat, salah satunya tetuang dalam novel ini di bagian “Dul Kebal Hukum” di awal bagian ini tertulius: “Mendapat hukuman atas berbagai pelanggaran sebenarnya sudah biasa buat Doni, Encep, dan Dul, Tapi, kalau hukuman itu langsung diberikan oleh Kiai Ridhwan, bisa jadi baru pertama kali dialami oleh ketiga santri badung ini” begitulah siratan yang terdapat dalam cuplikan novel ini.

            Alur dalam novel ini pun cukup menarik, disajikan secara sistematis dan runtut semakin menunjukan suasana kehidupan mereka yang sebenarnya. Hanya saja ada beberapa yang disayangkan dari novel ini yakni banyakanya konflik yang cukup mencuat dan sering muncul dalam tiap bagian novel. Sehingga menjadikan konflik utama mereka yang bersaing mencuri hati Adinda Santri putri yang cantik dan menjadi rebutan trio santri Geng Kopi Tubruk ini menjadi agak kabur. 

Pembaca dibuat bingung dengan banyaknya konflik dan problem mereka yang berseliweran dalam cerita, namun sedikit terselamatkan oleh pembangunan citra persaingan mereka dalam kisah cinta pesantren ini. Deskripsi permasalahan dalam merebutkan Adinda dibuat sedalam mungkin dan sehebat mungkin, yang pada akhirnya konflik utama ini tetap tampak lebih jelas di antara beberapa konflik pendukung lainnya. Penulis memprediksi mungkin inilah cara unik dari Ruslan untuk menjadikan novelnya punya nilai tersendiri di hati pembaca, dan menjadi ciri khas dari novel Geng Kopi Tubruk ini.

            Satu kekurangan yang penulis sayangkan sekali, yakni pada ending cerita yang seakan membuat pembaca tertipu. Terang saja sejak awal dan seterusnya Ruslan mampu membuat pembaca terbawa oleh alur cerita yang sangat menarik, menggelikan, bahkan miris. Namun ternyata ia tak bisa membuat ending yang semenarik alurnya, klimaks dari konflik itu sendiri juga tak begitu tampak. Sehingga ending dari novel ini terasa datar dan hambar, penulis sempat merasa kecewa dengan model ending seperti ini. Memang ending yang tak menyelesaikan semua masalah untuk mengajak pembaca berimajinasi tentang kelanjutan suatu cerita adalah bagus bagi penulis. Tapi bukan seperti ending novel ini, seakan-akan ada yang hilang dari cerita ini, warna khas yang dipersembahkan oleh penulis novel menjadi pudar di akhir cerita.

            Penulis menyarankan, meskipun ingin membuat akhir cerita tak menyelesaikan semua permasalahan tapi tak seharusnya ada yang lumpuh dari badan cerita. Semestinya penulis cukup membuat akhir dari konflik utama, sedangkan percikan dari konflik tadi biarlah menjadi cerita baru dalam pikiran pembaca. Itulah sekiranya yang perlu diperbaiki dan diperhatikan oleh Ruslan dalam menulis fiksi apapun. Memang sekilas kekuranagn dari novel ini tak begitu banyak, namun meski sedikit dengan kesumbangan yang sangat tampak bak luka menganga itu, akan menjadi sebuah hantaman keras bagi Ruslan dan novelnya.

            Penulis dapat memaklumi akan hal ini terutama dalam pembentukan ending, karena penulis sendiri juga merasakan hal yang cukup sulit untuk membuat ending yang indah dalam sebuah tulisan fiksi. Namun secara keseluruhan novel ini cukup bagus dan layak di baca oleh siapapun lebih-lebih santri, karena novel ini secara jujur memaparkan sisi lain kehdupan di pesantren. Diksi, penokohan, alur, konflik, setting, deskripsi, dan yang lain telah dituangkan oleh Ruslan secara bagus dan menarik. Penulis menyimpulkan bahwa novel Geng Kopi Tubruk ini adalah novel pesantren yang sangat bagus untuk dinikmati semua kalangan.

Judul Novel    : Geng Kopi Tubruk
Pengarang      : Ruslan Ghofur
Penerbit         : Matapena, Yogyakarta
Tahun terbit   :September 2006
                          November 2008
Tebal               : ix+211 halaman
Resensator     : Ahmad Yani

No comments:

Post a Comment