UNIKNYA INDONESIA
11 April 2011 pukul 9:34
Uniknya negeri ini...Negeri bernama Indonesia..
Berjuta warna, berjuta watak, berjuta keragaman...
Juga berjuta fenomena...
Lihatlah saudara di sekitar kita
Dalam keseharian...
Keanehan itu sungguh di depan mata...
Lihatlah mereka yang berada di atas sana
Mereka adalah pengemban amanah
Uniknya mereka tak merasa dibebani
Juga mereka yang jadi wakil rakyat
Mereka terus bersuara bagaikan ayam jago
Uniknya bukan suara rakyat yang diteriakkan
Hanya kepentingan pribadi atasnama rakyat
Yang terus digembor-gemborkan...
Lihatlah saudaraku....
Mereka para penegak hukum...
Berlagak membela yang lemah
Tapi uniknya merekalah yang merobohkan hukum....
Bila engkau ingin lihat drama terbaik negeri ini....
Tontonlah adegan para anggota dewan...
Baik, jahat, semua jadi satu...
Dan uniknya bisa berubah setiap saat
Tergantung pada kebutuhan...
Inilah Indonesia...
Yang besar makin besar hingga lupa daratan
Yang kecil tambah kecil bahkan mungkin bisa saja hilang
Yang di atas tak peduli orang bawah
Yang di bawah makin terinjak tak berdaya....
Percayalah, sungguh uniknya Indonesia ini....
Berjuta warna, berjuta watak, berjuta ragam, berjuta fenomena (@md)
SEBUAH I’TIBAR UNTUK PARA PENGUASA
Suatu saat Gubernur mesir pada masa Khalifah Umar bin Khattab Amr bin Ash, hendak membangun sebuah masjid. Namun sayangnya di dekat lokasi pembangunan ada rumah kecil seorang nenek tua beragama yahudi yang menghalangi pembangunan masjid. Akhirnya sang Gubernur pun memerintahkan kepada nenek itu untuk pindah dari rumahnya. Tapi nenek itu tak mau karena ia sudah lama di situ, dengan berbagai cara Gubernur bersusah payah membujuk nenek itu. Tapi lagi-lagi nenek itu tetap bergeming tak mau pindah, akhirnya Gubernur pun memakai cara keras ia akan menggusur rumah nenek itu.
“Kalau cara anda seperti ini, saya akan lapor pada khlaifah” ujar nenek itu saat tahu apa yang akan dilkukan oleh Gubernur. Akhirnya nenek itu pun pergi ke Madinah guna menemui Khlaifah Umar untuk melaporkan tindakan Gubernurnya. Setelah tiba di Madinah nenek itu langsung mencari khalifah, tak lama kemudian ia bertemu dengan Khalifah yang sedang duduk di depan masjid. Sungguh di luar dugaannya ia menyangka khalifah adalah hidup dalam kemewahan, namun ini jauh dari semua itu, tak ada kemewahan yang tampak dari sang Khalifah Umar. Tak tampak kalau ia adalah Khalifah Islam, pimpinan tertinggi negara. Tak ada istana sebagai tempat pertemuan, hanya masjid sebagai pusat pegerakan islam saat itu. Sungguh kagum sekali ia melihat kesederhanan sang Khalifah.
“Assalamualaikum yang mulia khalifah Umar” salam nenek itu saat bertemu dengan Umar bin Khattab.
“Wa’alaikum salam, ada yang bisa saya bantu nek?” tanya Umar.
“Hamba Fulannah, dari Mesir. Hamba ingin melaporkan tindakan Gubernur yang mulia. Dia sudah berlaku tidak adil pada hamba tuan” ujar nenek itu melapor pada Umar.
“Ada apa gerangan dengan Gubernurku” tanya khalfah lagi.
Akhirnya nenek itu menceritakan semua tentang Gubernur Amr bin Ash yang berbuat tidak adil padanya yakni ingin menggusur paksa rumahnya untuk pembangunan masjid. Khalifah mendengarkan cerita nenek itu dengan seksama dari awal sampai akhir secara runtut. Usai mendengarkan cerita si nenek Khalifah pun tampak merah padam wajahnya, kemudian ia langsung mengambil sebuah tulang unta yang ada di tempat sampah. Lalu dengan pedangnya ia membuat garis tegak lurus, kemudian garis melintag di tengahnya, setelah itu ia memberikannya pada nenek itu seraya berujar.
“Berikan ini pada Gubernurku”perintah Umar singkat. Tanpa banyak tanya lagi nenek itu langsung menerimanya, dan kemudian berpamitan pulang kepada Khlaifah. Sesampainya di Mesir nenek itu langsung menemui sang Gubernur dan memberikan tulang unta dari khalifah kepada Amr bin Ash. Setelah melihat pesan yang ada di tulang itu, seketika tubuh Gubernur langsung bergetar seperti ada sesuatu yang menggoncang jiwanya. Dan langsung ia meminta maaf kepada nenek yahudi itu, serta mengurungkan niatnya menggusur rumah nenek itu. Merasa ada yang aneh nenek itu pun bertanya pada Gubernur.
“Ada apa gerangan tuan Gubernur dengan pesan dari khalifah itu?” tanya nenek itu ingin tahu.
“Khalifah berpesan padaku agar tetap menegakkan keadilan kepada siapapun, termasuk engkau. Khalifah juga mengancam padaku akan menebas leherku bila tidak berbuat adil, dan aku akan membusuk seperti tulang unta ini” jelas Amr bin Ash tampak pucat. Sungguh tegas sekali Khalifah bahkan kepada yang non islam sekalipun. Saat itu juga nenek yahudi itu pun menyatakan dirinya masuk islam. Ia juga mewakafkan rumahnya untuk pembangunan masjid.
Mungkin sudah dan memang saatnya kita untuk bertafakur, negeri ini memang kaya warna, kaya rasa, dan kaya akan keunikan. Keadilan hanya tinggal nama, kejujuran sudah lama tiada, kesederhanaan sudah lama ditinggalkan. Mari kita mengambil i’tibar dari kisah di atas tentang arti sebuah keadilan yang tak bisa ditawar-tawar lagi. Paling tidak ada 4 hal yang bisa kita jadikan hikmah untuk Indonesia saat ini.
Pertama, tentang sebuah kesederhanaan seorang pemimpin, sekalipun Umar adalah seorang Khalifah islam yang tertingi namun ia tak bergelimang dengan kemewahan sama sekali. Suatu hal yang sudah tidak ada lagi di negeri kita saat ini, lihat saja MPR merencanakan pembangunan gedung MPR-DPR yang terkesan sangat mewah dengan gedung super tinggi dan dengan dana yang super fantastis. Pengadaan komputer yang super mewah, dan masih banyak lagi hal yang jauh dari kesederhanaan dan terkesan berlebihan. Akan lebih baik bila dana untuk semua itu digunakan sebagai peningkatan kesejahteraan rakyat saat ini.
Kedua, tentang ketegasan, Khlaifah Umar berani dengan tegas mengancam Gubernurnya bila tetap mendzolimi nenek itu sebagai rakyat kecil. Lihat saja saat ini pemerintah terutama penegak hukum belum berani menindak tegas mereka yang melakukan tindakan kriminal, mereka masih takut. Dengan berbagai alasan mereka membebaskan pejabat bersalah yang seharusnya mendekam di penjara.
Ketiga, keadilan Khalifah Umar tetap berlaku adil meskipun yang didzolimi itu adalah non islam, tapi ia tetap berbuat adil kepada siapa pun tanpa membeda-bedakan. Sehingga merata ke semua lapisan keadilan itu. Sebuah hal yang sudah sulit kita temui, lihat saja sebagi contoh maling ayam dihukum sampai 5 tahun bahkan lebih, belum lagi kadang sudah babak belur dihajar masa. Berbeda dengan para koruptor miliaran bahkan triluyunan rupiah, dengan berbagai cara akhirnya hukuman hanya 1 atau 2 tahun bahkan bisa saja bebas, meskipun ia jelas-jelas mencuri uang negara.
Keempat, dari sisi syi’ar Islam, tindakan Khalifah sudah memukau hati nenek itu untuk masuk Islam. Inilah yang perlu kita lakukan, tak perlu kita angkat senjata untuk mengajak mereka masuk islam, tak perlu debat-debat yang tak berujung untuk mematahkan argumen mereka. Cukup dengan keadilan yang kita tegakkan secara tidak langsung akan menarik hati mereka masuk Islam. Suatu hal yang sudah langka oleh para pemimpin Islam saat ini.
Marilah kita kembali bertafakur dan mengambil ibroh dari kisah di atas, semoga kita tetap bisa menegakkan keadilan.Amin.(@md)
No comments:
Post a Comment