Oleh : Ahmad Yani, 9 Agustus 2016
BELAKANGAN ini jagat dunia maya dan dunia nyata di negeri kita sedang diramaikan pro kontra soal wacana Menteri Pendidikan baru yg menggagas full day study alias pendidikan.sehari penuh di sekolah, setidaknya itu pemahaman yg gampang.
Walaupun saya tidak punya latar belakang jurusan pendidikan, tapi saya ingin menanggapi dan menyampaikan pandangan tentang masalah tersebut. Menurut saya, pada dasarnya tidak masalah seberapa lama durasi belajar di sekolah, yg terpenting penyajian pendidikan itu sendiri jangan sampai membosankan. Mungkin bagi yg tidak setuju dg wacana itu, silakan belajar dari apa yg diterapkan di pondok pasentren.
Malah bisa dikatakan 24 jam full belajar di situ, namun tidak selalu berada di kelas. Di pesantren ada saatnya belajar di kelas, ada saatnya hafalan (muhafadzoh) bersama, ngaji setoran, syawir (diskusi) dll. Nyatanya hingga saat ini -sebatas pengetahuan saya- belum pernah ada berita santri demo atau protes pada kyainya soal sistem pendidikan di pondok.
Karena apa? Selain pendidikan yg bersifat pengetahuan (intelektual), di pesantren juga diajarkan pendidikam pembiasaan (kultural) seperti sifat tawadhu' (rendah hati), ta'dzim (menghormati) dan yg lainnya. Sehingga tidak sekedar pendidkan intelektual saja yg didapat, tapi juga moral dan spiritual yg diberikan.
Hasilnya seperti apa, kita semua bisa lihat nama-nama besar di negeri ini, Seperti KH. Hasyim Asy'ari, Wahid Hasyim, Gus Dur, Menteri Agama Saat ini Lukman Hakim Syaifudin, Ketua PBNU KH. Said Agil Siroj, dan masih banyak lagi tokoh lainnya. Bukan berarti pendidikan di sekolah harus seperti di pesantren, namun setidaknya bisa mengadopsi pola pendidikan yg diberikan.
Itulah pandangan saya terhadap isu yg sedang hangat saat ini ttg pendidikan di negeri kita, Indonesia. Maaf bila terlalu panjang lebar. Silakan bila ada yg mau menanaggapi. :-) :D
No comments:
Post a Comment