Friday, 27 January 2017

Santri Menjadi Penulis, Why Not?

Oleh : Ahmad Yani 10 April 2011

SANTRI, sebuah nama yang sudah tak asing lagi bagi kita, sosok yang sangat paham akan urusan agama, yang bisa jadi pedoman di masyarakat, yang bisa menguasai segala hal, dan masih banyak lagi mungkin yang ada dalam pikiran kita untuk menggambarkan seorang santri. Memang sejak dulu peran santri dalam dunia islam tak bisa dilepaskan sampai sekarang. Namun tak sedikit juga yang berpandangan bahwa santri hanyalah sosok yang melulu berkutat alias mulek di bidang agama saja. Mereka yang berpendapat begitu juga mengatakan bahwa santri kurang paham tentang segala hal yang ada di era modern saat ini, sebut saja tentang teknologi. Di era yang serba on line ini santri masih diragukan kemampuannya dalam hal teknologi, padahal tak sedikit yang punya kemampuan setara dengan mereka yang punya keahlian di bidang tersebut.

            Juga yang tak kalah pentingnya lagi santri juga dianggap belum bisa memberikan kontribusi untuk kemajuan Indonesia, mereka dianggap tak lebih seperti orang-orang yang tak peduli dengan urusan negara. Padahal cukup banyak yang bisa diberikan oleh kaum bersarung, untuk sebuah perubahan di negara kita ini. Salah satunya adalah dengan menulis, suatu hal yang sederhana atau bahkan terkadang dilupakan namun bisa memberikan perubahan yang besar bagi kita semua. Hingga saat ini cukup banyak pondok pesantren yang punya perhatian yang bagus akan kemajuan tulis menulis di dunia pesantren, sebut saja seperti Pondok Pesantren Lirboyo denagn Majalah MISYKATnya, Pondok Pesantren Sidogiri dengan Mading HIMMAH dan Majalah Ijtihad-nya, serta Pondok Pesantren Darul Huda dengan LPS Al-Huda, IRSYAD, dan Bulletin HIMMAH yang belum lama ini berkembang, semua itu adalah sebagai media penuangan ide lewat tulisan.  Dan bukanlah hal yang tidak mungkin bila santri menjadi seorang penulis besar.

Cukup banyak kaum pesantren yang namanya besar karena tulisannya, seperti Gus Mus, Gus Dur,Sholahudin Wahid, Kyai Zawawi Imron, Emha Ainun Najib, Syekh Nawawi Banten, Mbah Ihsan Jampes, serta masih banyak lagi deretan nama tokoh-tokoh besar lain yang terkenal lewat tulisannya, dan mereka juga adalah santri. Sayangnya dari santri sendiri hingga saat ini sebagian masih punya pemikiran bahwa santri ya santri tidak bisa ngapa-ngapain selain hanya ngaji dan hafalan, juga mereka masih menganggap bahwa menulis itu sulit. Padahal ada sebuah ungkapan yang berbunyi, “Kalau engkau bukan anak raja dan engkau bukan anak ulama besar, maka jadilah penulis” ( Syaikh Al-Ghazali). Kita tahu Imam Al-Ghazali terkenal hingga sampai saat ini dengan Ihya’ Ulumuddin-nya, karena ia mau menulis, coba bayangkan bagaimana mungkin kita bisa kenal dengannya kalau saja ia tidak menulis.

Jadi, tak ada alasan lagi bahwa menulis itu sulit dan nggak ada gunanya. Bukan zamannya lagi santri hanya belajar dan belajar saja tanpa ada pengamalannya, salah satunya adalah dengan menulis, karena memang itulah senjata yang cukup ampuh bagi santri untuk mengemukakan pemikirannya kepada publik, tidak hanya di pondok saja, tapi juga di masyarakat, negara, bahkan dunia kalau perlu, hanya lewat tulisan. Apalagi kita tahu keseharian santri tidak pernal lepas dari yang namanya menulis, entah itu di pengajian kitab salaf, sekolah formalnya, maupun diniyah.

Memang tampaknya sederhana saja menulis itu, tapi buka berarti bisa diremehkan, menulis tidak perlu bakat tak perlu keahlian. Cukup kita suka dan punya kemauan besar untuk menulis, serta tekun berlatih dan berlatih terus, pasti akan menghasilkan sesuatu yang tak terduga bagi kita, buktikan saja itu, kini saatnya santri juga punya peran untuk kemajuan Indonesia yang sekarang sudah terracuni oleh pemikiran-pemikiran yang sudah keluar dari koridor islam. Saatnya- lah pesantren sebagai benteng pertahan islam terkhir dengan santri-santrinya memberikan sebuah perubahan bagi Indonesia, DARI YANG KECIL, YANG SEDRHANA, DAN SEKARANG JUGA!!!.

No comments:

Post a Comment